Assalamualaikum..
Mengawali pagi ini dengan senyum meski ada mendung dalam jiwa. Setelah lama tak lagi menulis. Hari ini, disela menunggu Bapak di rumah sakit, aku ingin kembali menulis kata.
Hari ini, harus dimulai dengan sebuah keyakinan bahwa akan hadir pelangi yang indah sesaat setelah hujan mereda. Karena janji Allah selalu benar, setelah ada kesusahan akan ada kemudahan.
Empat tahun enam bulan telah kita lewati bersama dalam suka dan duka. Menyatukan visi dan misi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Menikmati setiap kejutan dalam memahami karakter kita. Ada tawa, tangis, marah, kesel, semua terangkum dalam memori cinta.
Empat tahun enam bulan kita telah menanti hadirnya sang buah hati. Doa dan ikhtiar kita lakukan bersama. Meski hari ini Allah masih menyimpan rahasinya, kita tak boleh berputus asa. Allah Maha Memberi dan Maha Mengabulkan doa. Alangkah mudahnya bagi Allah tuk menjawab doa kita, kelak ketika saatnya telah tiba.
Biarkan hari ini menjadi milik orangtua kita. Melayani mereka, membahagiakan mereka, memenuhi kebutuhan mereka. Hingga mereka ridho dengan kita. Maka Allah pun akan ridho dengan kita. Hingga nanti Allah takdirkan kita memiliki keturunan yang juga akan berbakti pada kita. Rabbi
ATILAH BERBAGI CERITA
Minggu, 16 Juli 2017
Selasa, 25 Februari 2014
Menara Kerjasama
Hari ini jadwal kegiatan kelas 3 adalah "outbound low impact" yaitu kegiatan outbound yang berupa games. Kegiatan diawali dengan doa bersama dan peregangan otot badan. Selanjutnya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Target permainan hari ini adalah tumbuhnya kerjasama tim dan menemukan ide untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Masing-masing kelompok dibekali 100 buah sedotan dan diminta untuk membuat sebuah menara yang sangat tinggi (paling tinggi dibandingkan kelompok lain). Nah mulailah masalahnya....
Setelah beberapa menit berpikir, mulailah muncul ide dari salah satu anak tentang dari mana akan memulai membangun menara. Tak lama kemudian yang lain pun ikut memberi ide. Namun belum ada keputusan. Hingga terdengarlah seseorang menawarkan untuk membangun pondasinya terlebih dahulu menggunakan botol minum yang mereka bawa.
Selanjutnya proses berpikir ini "dipancing" oleh guru untuk menemukan ide terbaik dan memunculkan karakter pemimpin dalam tim tersebut. Maka bergeraklah mereka untuk segera membangun menaranya dan saling melengkapi dalam idenya. Dari sini mulailah terlihat Andra yang lebih banyak memberi ide. Zidan dengan sigap berpikir untuk mencari solatif tambahan. Hasan yang kemudian merelakan tempat minumnya sebagai pondasi. Aldi dan Fais yang terus membantu memegang sedotan ke atas. Mirza berperan dalam memasang sedotan yang lebih tinggi.
Namun...seperti apapun sibuknya tim tersebut, ada juga siswa yang acuh tak acuh dengan kegiatan ini. Tidak mau membantu dengan alasan idenya tidak digunakan. Menyoraki seakan mengejek ketika teman-teman timnya belum berhasil atau menara kembali rubuh. Inilah PR sesungguhnya bagi sang guru, bagaimana menumbuhkan sikap kerjasama tim dan berlapang dada ketika ide kita tidak diterima. Semoga kita mampu untuk melakukannya.
Minggu, 21 Juli 2013
Kelas Baruku
Tahun ini menjadi tahun perubahan untuk semangatku. Setelah kurang lebih 3 tahun aku mengajar di level kelas atas (4-6) akhirnya tahun ini aku mendapat jatah level kelas kecil ((1-3), tepatnya di kelas 3. Sebuah harapan untuk mencarge lagi segalanya, termasuk niat dan keikhlasan.
Tahun ini aku bertemu dengan anak-anak yang masih lugu, meskipun sudah tidak terlalu "cupu". Aku juga bertemu dengan rekan-rekan baru yang tentunya punya hal baru juga. Ada yang jago craft, jago musik, jago bahasa, jago matematika dan lainnya.
Di kelas baruku ini ada 21 siswa. Pertama kali aku bertemu mereka, aku berharap cinta mulai tumbuh karena pertemuan pertamaku dengan mereka akan sangat menentukan perasaanku untuk menjalin kerja sama dengan mereka. Tentu saja aku berharap begitu karena mereka akan menjadi bagian dari kehidupanku selanjutnya.
Dan inilah kesan pertamaku dengan mereka. Di kelas baruku ini siswanya menyenangkan. Kulihat mereka punya potensi yang luar biasa. Ada yang hobi cerita, ada yang kritis bertanya, ada yang hobi gambar, ada juga yang pendiam tapi mengamati. Ah....aku berharap mereka akan menjadi warna lain dalam hatiku....
Satu kalimat ku untuk mereka, welcome on my heart......
Tahun ini aku bertemu dengan anak-anak yang masih lugu, meskipun sudah tidak terlalu "cupu". Aku juga bertemu dengan rekan-rekan baru yang tentunya punya hal baru juga. Ada yang jago craft, jago musik, jago bahasa, jago matematika dan lainnya.
Di kelas baruku ini ada 21 siswa. Pertama kali aku bertemu mereka, aku berharap cinta mulai tumbuh karena pertemuan pertamaku dengan mereka akan sangat menentukan perasaanku untuk menjalin kerja sama dengan mereka. Tentu saja aku berharap begitu karena mereka akan menjadi bagian dari kehidupanku selanjutnya.
Dan inilah kesan pertamaku dengan mereka. Di kelas baruku ini siswanya menyenangkan. Kulihat mereka punya potensi yang luar biasa. Ada yang hobi cerita, ada yang kritis bertanya, ada yang hobi gambar, ada juga yang pendiam tapi mengamati. Ah....aku berharap mereka akan menjadi warna lain dalam hatiku....
Satu kalimat ku untuk mereka, welcome on my heart......
Minggu, 06 Januari 2013
Ujian Nasional
Tanpa terasa waktu terus berlalu. Bulan Mei tinggal sebentar lagi, itu artinya murid-muridku akan ujian nasional (UN). Itu juga berarti aku butuh persiapan lebih banyak untuk mendampingi mereka belajar, memberikan yang terbaik disaat kami bertemu, memberikan semangat ketika ada satu dua anak yang mulai gelisah dan mendoakan mereka di sholat-sholatku.
Nak...aku yakinkan pada kalian, kalian tak perlu cemas ataupun gelisah menghadapi UN karena itu hanya satu ujian kecil dalam hidup kalian. Kelak, kalian akan menghadapi ujian yang lebih besar dalam kehidupan ini. Tapi bukan berarti kalian leha-leha tanpa persiapan. Kalian harus tetap semangat dan kerja keras dalam persiapan karena Allah akan melihat usaha kalian. Sehingga kelak Allah tidak segan-segan untuk membantu kalian pada saat UN jika kalian sudah memaksimalkan usaha kalian. Dan tentu saja kalian juga harus perkuat kedekatan kalian dengan Allah melalui ibadah dan akhlak yang baik dala hari-hari kalian. Sehingga Allah semakin sayang sama kalian.
Nak...doaku selalu untuk kalian...persiapkanlah semaksimal yang kalian mampu. Ingat selalu kata-kataku "Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya"...maksudnya apa?? cobalah ingat-ingat percakapan kita setiap pagi...
Ma'annajah Nak...
Nak...aku yakinkan pada kalian, kalian tak perlu cemas ataupun gelisah menghadapi UN karena itu hanya satu ujian kecil dalam hidup kalian. Kelak, kalian akan menghadapi ujian yang lebih besar dalam kehidupan ini. Tapi bukan berarti kalian leha-leha tanpa persiapan. Kalian harus tetap semangat dan kerja keras dalam persiapan karena Allah akan melihat usaha kalian. Sehingga kelak Allah tidak segan-segan untuk membantu kalian pada saat UN jika kalian sudah memaksimalkan usaha kalian. Dan tentu saja kalian juga harus perkuat kedekatan kalian dengan Allah melalui ibadah dan akhlak yang baik dala hari-hari kalian. Sehingga Allah semakin sayang sama kalian.
Nak...doaku selalu untuk kalian...persiapkanlah semaksimal yang kalian mampu. Ingat selalu kata-kataku "Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya"...maksudnya apa?? cobalah ingat-ingat percakapan kita setiap pagi...
Ma'annajah Nak...
Selasa, 09 Oktober 2012
Delapan tahun sudah aku
melalui hari-hariku dibawah naungan tarbiyah. Tanpa terasa sudah banyak hal
yang aku dapatkan di sini terutama dalam proses pembinaan diri menjadi seorang
muslimah. Tempaan medan dakwah yang penuh cerita itu alhamdulillah mampu membuat
aku bertahan di jama’ah ini hingga hari ini.
Namun, haruskah semua
itu berakhir di sini???
Ketika semua terasa tak
lagi bersahabat. Ketika semua seakan menjadi orang asing. Ketika tuntutan hidup
semakin bertambah seiring beban yang terasa semakin berat. Tak ada lagi rasanya
tempat untuk menangis, menceritakan semua kegelisahan dan kegalauan hati.
Lalu dimanakah mereka,
mereka yang selama ini mengaku sebagai saudara?
Lalu dimanakah mereka,
mereka yang mengaku sebagai sahabat?
Ingin rasanya segera
kutepis semua rasa ini. Bahwa mereka selalu ada di sini, di dalam hatiku...
Lalu kutengadahkan
wajah, ku berharap akan datangnya gerimis yang memberi sejuk pada jiwa. Angin
semilir yang menentramkan jiwa. Hingga kelopak mata ini mampu terpejam,
menyerap rasa, mengambil energi dari udara untuk membasuh luka yang kian
menganga.
Senyum pun terkembang
kembali seiring damai yang menjalari hati. Biarlah kuserahkan semua warna hati,
pada-Mu Illahi Rabbi...
Kamis, 22 Maret 2012
Hari ini, Aku, Ibu dan Rabb-ku
Hari ini, Aku, Ibu dan Rabb-ku
Hari ini aku ingin manatap wajahmu yang lembut
Hari ini aku ingin memeluk tubuhmu yang kian ringkih
Hari ini aku ingin melihat senyummu yang selalu mendamaikanku
Hari ini aku ingin mengusap lembut air matamu yang menanti kehadiranku
Ibu, aku tahu belum banyak yang mampu aku berikan padamu
Ibu, aku tahu belum banyak aku membuatmu bahagia
Ibu, aku tahu bahwa kau selalu merindukanku
Ibu, aku tahu...akupun rindu padamu
Rabbi, kutitipkan ia pada-Mu
Rabbi, dengarlah doa-doanya dan kabulkanlah pintanya
Rabbi, jadikan akhir hidupnya khusnul khotimah
Rabbi, jadikan aku tabungan "anak yang sholehah" untuknya..
Ibu, aku rindu padamu
Rabbi, jagalah ia untukku....
Minggu, 22 Januari 2012
Tak Hanya Mereka yang Belajar tapi Juga Aku
Suatu hari aku berangkat ke tempat kerja dengan hati penuh semangat dan bahagia. Hari itu aku akan menemani kegiatan anak-anak "market day". Market day adalah kegiatan berjualan yang biasa dilakukan anak-anak di tempatku mengabdi sebagai sarana untuk melatih jiwa enterpreneur mereka.
Selain itu, hari ini adalah saatnya untuk melatih kemandirian, kerjasama tim, keberanian dan daya juang mereka. Karena itulah aku tidak banyak terlibat dalam hal-hal praktis, dari persiapan, kordinasi sampai tahap pelaksanaan semua dilakukan anak-anak. Di sini aku hanya sebagai pemberi pertimbangan atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
Setiba di tempatku mengabdi, seperti biasa aku sempatkan untuk menyapa teman-temanku sebentar di kantor. Kemudian aku menemui anak-anak yang sudah menanti di kelas. Aku pun bertanya tentang kesiapan mereka dari peralatan sampai bahan-bahan yang akan dimasak untuk dijual. Adalah sebuah kewajaran ketika ternyata persiapan anak-anak tidak 100%. Maka tugasku adalah membuck up mereka.sebelumnya aku sudah menyiapkan satu buah kompor.dan ternyata masih ada beberapa peralatan yang ternyata tidak mereka siapkan padahal itu hal yang "urgen" yaitu wajan dan teman-temannya. Tentu saja aku harus bertindak cepat untuk mencari solusinya. Dalam ketergesaanku menyiapkan alat-alat yang belum ada ternyata aku menemukan kalung pemberian ibuku terjatuh di lantai dan setelah kuperiksa ternyata liontinnya tidak ada. Ah....benda itu memang kecil dan tak seberapa jika dinilai harganya tapi bagiku dia punya arti besar sebagai sebuah pemberian ibuku (teringat pesan beliau untuk menjaganya jika perlu sampai pada cucunya kelak he....he....).
Disini ada sebuah kebimbangan antara aku mencari liontinku atau aku tetap konsentrasi menyiapkan peralatan yang belum ada dan mendampingi anak-anak. Ah.......tapi tak ada salahnya juga aku minta tolong Pak Fuad untuk hati-hati ketika menyapu siapa tahu menemukan liontinku.
Akhirnya aku teringat kisah ustadah Yoyoh, keluarga beliau mengatakan bahwa beliau adalah orang yang begitu tenang setiap kali kehilangan sesuatu atau ketinggalan sesuatu kecuali jika Al Qur'an yang tertinggal maka Beliau akan segera kembali untuk mengambilnya. Dan subhanallah barang-barang tersebut biasanya kembali entah dengan cara seperti apa pun. Ah...begitu besarnya rasa tsiqoh beliau terhadap Sang Maha Penjaga. Lantas aku bulatkan tekad untuk tetap mendampingi anak-anak sampai selesai dan biarlah Allah yang memutuskan perkaraku. Jika Allah menghendaki, insyaallah liontinku akan ketemu. Tapi jikapun tidak maka aku rela ya Allah (pikirku saat itu).
Akhirnya aku kembali pada anak-anak untuk mendampingi mereka "market day". Alhamdulillah "market day" berjalan sukses. Kerjasama timnya bagus, semua anak ikut berperan dari mulai yang mengupas, mengiris, menggoreng, mencatat pesanan, menjual, menerima pembayaran, memberi bumbu, mencuci, dan lain-lain. Kemandiriannya oke karena pada saat ini berlangsung aku hanya sebagai pemantau dan pemberi arahan. Mereka juga berani menjual pada orang yang tak dikenal. Daya juangnya hebat sampai pada akhir kegiatan tak ada yang mengeluh kecuali minta instirahat untuk membeli minum. Setelah selesai "market day" maka saatnya untuk melakukan evaluasi atau lebih tepatnya refleksi kegiatan, melakukan perhitungan untung-rugi, meluruskan tentang etika berbisnis dan memberi penekanan pada karakter yang ingin dibangun melalui kegiatan ini.Dan banyak lagi pembelajaran yang mereka dapatkan dari kegiatan ini. Mmmm.....sungguh menyenangkan belajar seperti ini, memberi pengalaman bukan memberi teori.Ada kepuasan tersendiri yang diperoleh anak-anak maupun aku.Dan yang terpenting ada proses belajar, tidak hanya anak-anak tapi juga aku.
Dan tahukan kamu, ternyata beberapa hari kemudian ketika aku hendak ngeprint sesuatu dikantor. Aku menemukan liontinku tepat disamping "mouse". Tak ada yang memberi tahu dan tak ada yang bercerita. Subhanallah walhamdulillah, betapa kuasanya Allah melakukan sesuatu padahal sebelumnya aku menemukan kalungku jatuh berada jauh dari kantor sehingga tak pernah terpikir sedikitpun liontinku akan ditemukan di kantor.
Semoga cerita ini mampu memberi inspirasi...
Langganan:
Postingan (Atom)
