Pada suatu pagi yang dingin, kulangkahkan kaki ku menuruni sebuah anak tangga kehidupan. Dari titian pertama kurasakan langkahku begitu berat. Namun...terus kulantunkan takbir agar gelora semangat dalam dadaku tetap mengalir.
Nanarku menatap wajah tua yang mengantarku ke pintu harapan. Senyum simpul yang selalu membuatku luluh dari menahan bendungan air mata membuatku semakin tak kuasa untuk tak memeluknya. Ya...kini tangan yang biasa mengelus rambutku sudah semakin keriput. Tubuh yang biasa memelukku sudah semakin ringkih. Namun doa-doa yang terlantun dari bibirnya selalu membuatku tenang.
Entah sudah berapa kali ia bisikan kata itu di telingaku, sampai aku sendiri hafal setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dan entah yang keberapa kalinya pula kukatakan padanya bahwa aku ingin bersabar menghadapi semua detik kehidupanku. Meski aku tahu itu tak mudah.
Ah....aku jadi teringat sebuah buku yang pernah kubaca, sipenulis berkata "sabar itu tak mudah dilakukan". Sehingga kita lebih sering meminta orang lain bersabar daripada kita sendiri yang sabar. Tapi...aku selalu yakinkan diri ini agar selalu berusaha, bertawakal dan bersabar dalam setiap keterbatasan yang kumiliki.