Minggu, 22 Januari 2012

Tak Hanya Mereka yang Belajar tapi Juga Aku

Suatu hari aku berangkat ke tempat kerja dengan hati penuh semangat dan bahagia. Hari itu aku akan menemani kegiatan anak-anak "market day". Market day adalah kegiatan berjualan yang biasa dilakukan anak-anak di tempatku mengabdi sebagai sarana untuk melatih jiwa enterpreneur mereka.
Selain itu, hari ini adalah saatnya untuk melatih kemandirian, kerjasama tim, keberanian dan daya juang mereka. Karena itulah aku tidak banyak terlibat dalam hal-hal praktis, dari persiapan, kordinasi sampai tahap pelaksanaan semua dilakukan anak-anak. Di sini aku hanya sebagai pemberi pertimbangan atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
Setiba di tempatku mengabdi, seperti biasa aku sempatkan untuk menyapa teman-temanku sebentar di kantor. Kemudian aku menemui anak-anak yang sudah menanti di kelas. Aku pun bertanya tentang kesiapan mereka dari peralatan sampai bahan-bahan yang akan dimasak untuk dijual. Adalah sebuah kewajaran ketika ternyata persiapan anak-anak tidak 100%. Maka tugasku adalah membuck up mereka.sebelumnya aku sudah menyiapkan satu buah kompor.dan ternyata masih ada beberapa peralatan yang ternyata tidak mereka siapkan padahal itu hal yang "urgen" yaitu wajan dan teman-temannya. Tentu saja aku harus bertindak cepat untuk mencari solusinya. Dalam ketergesaanku menyiapkan alat-alat yang belum ada ternyata aku menemukan kalung pemberian ibuku terjatuh di lantai dan setelah kuperiksa ternyata liontinnya tidak ada. Ah....benda itu memang kecil dan tak seberapa jika dinilai harganya tapi bagiku dia punya arti besar sebagai sebuah pemberian ibuku (teringat pesan beliau untuk menjaganya jika perlu sampai pada cucunya kelak he....he....).
Disini ada sebuah kebimbangan antara aku mencari liontinku atau aku tetap konsentrasi menyiapkan peralatan yang belum ada dan mendampingi anak-anak. Ah.......tapi tak ada salahnya juga aku minta tolong Pak Fuad untuk hati-hati ketika menyapu siapa tahu menemukan liontinku.
Akhirnya aku teringat kisah ustadah Yoyoh, keluarga beliau mengatakan bahwa beliau adalah orang yang begitu tenang setiap kali kehilangan sesuatu atau ketinggalan sesuatu kecuali jika Al Qur'an yang tertinggal maka Beliau akan segera kembali untuk mengambilnya. Dan subhanallah barang-barang tersebut biasanya kembali entah dengan cara seperti apa pun. Ah...begitu besarnya rasa tsiqoh beliau terhadap Sang Maha Penjaga. Lantas aku bulatkan tekad untuk tetap mendampingi anak-anak sampai selesai dan biarlah Allah yang memutuskan perkaraku. Jika Allah menghendaki, insyaallah liontinku akan ketemu. Tapi jikapun tidak maka aku rela ya Allah (pikirku saat itu).
Akhirnya aku kembali pada anak-anak untuk mendampingi mereka "market day". Alhamdulillah "market day" berjalan sukses. Kerjasama timnya bagus, semua anak ikut berperan dari mulai yang mengupas, mengiris, menggoreng, mencatat pesanan, menjual, menerima pembayaran, memberi bumbu, mencuci, dan lain-lain. Kemandiriannya oke karena pada saat ini berlangsung aku hanya sebagai pemantau dan pemberi arahan. Mereka juga berani menjual pada orang yang tak dikenal. Daya juangnya hebat sampai pada akhir kegiatan tak ada yang mengeluh kecuali minta instirahat untuk membeli minum. Setelah selesai "market day" maka saatnya untuk melakukan evaluasi atau lebih tepatnya refleksi kegiatan, melakukan perhitungan untung-rugi, meluruskan tentang etika berbisnis dan memberi penekanan pada karakter yang ingin dibangun melalui kegiatan ini.Dan banyak lagi pembelajaran yang mereka dapatkan dari kegiatan ini. Mmmm.....sungguh menyenangkan belajar seperti ini, memberi pengalaman bukan memberi teori.Ada kepuasan tersendiri yang diperoleh anak-anak maupun aku.Dan yang terpenting ada proses belajar, tidak hanya anak-anak tapi juga aku.
Dan tahukan kamu, ternyata beberapa hari kemudian ketika aku hendak ngeprint sesuatu dikantor. Aku menemukan liontinku tepat disamping "mouse". Tak ada yang memberi tahu dan tak ada yang bercerita. Subhanallah walhamdulillah, betapa kuasanya Allah melakukan sesuatu padahal sebelumnya aku menemukan kalungku jatuh berada jauh dari kantor sehingga tak pernah terpikir sedikitpun liontinku akan ditemukan di kantor.
Semoga cerita ini mampu memberi inspirasi...

Jumat, 06 Januari 2012

Tak Sengaja Menjadi Guru

Akhir Desember 2008
Alhamdulillah, sujud syukur telah kulakukan sesaat setelah q dinyatakan lulus. Empat tahun empat bulan sudah aku lalui dan kini aku dinyatakan sebagai seorang sarjana. Yah...SARJANA. Banggakah aku? Mungkin ia tapi sesaat kemudian aku berpikir, kemana kemudian aku akan melangkah?

Menjadi seorang sarjana bukan berarti hidup kita selanjutnya akan mudah justru dari sinilah kita akan memulai kehidupan yang sesungguhnya (begitu kata orang-orang). Menjadi sarjana tanpa keunggulan tertentu maka hanya akan menambah jumlah pengangguran. Benarkah? Faktanya memang banyak sudah sarjana yang akhirnya menganggur karena tidak punya keahlian khusus. Ya Allah...semoga Engkau tak menjadikan aku bagian dari mereka (sarjana yang pengangguran).

Oh...tentu saja tidak karena saat ini pun aku masih terikat kontrak dengan salah satu lembaga pendidikan yang cukup profit. Jadi aku tak akan jadi sarjana yang pengangguran he...he...Tapi benarkah aku akan bertahan di sana? Aku pikir juga tidak walaupun aku menyukai dunia pendidikan. Lalu mulailah aku bertanya-tanya, mencari informasi tentang lowongan kerja (sekarang aku menyadari sebagian besar universitas hanya menghasilkan para pekerja bukan orang-orang kreatif yang bisa menciptakan lapangan kerja, ah.....). Akhirnya kuputuskan untuk hijrah ke tempat kerja yang baru. Tepat bulan Januari 2009 aku diterima kerja di sebuah instansi pendidikan (untuk sebuah alasan tertentu aku putuskan bergabung dengan mereka). Aku pikir lumayan lah di sini aku akan lebih bisa berekspresi he...he...Mengembangkan hobi dan cita-citaku sebelum aku melangkah lebih lanjut pada impian berikutnya. Sampai di sini aku merasa kesempatanku cukup baik dan aku berniat menjalani pekerjaan di tempat ini sampai akhir tahun (ketahuan deh^_^).

hari berganti hari, minggu berganti bulan hingga tahun pun berlalu, dua thun sudah berlalu dan ternyata aku masih di sini di tempat ini, tempat yang awalnya hanya akan kunikmati selama satu tahun. Apa sebenarnya yang membuatku bertahan???

bersambung.....

Kamis, 05 Januari 2012

Senja ini Tanpa Pelangi

Senja ini langit begitu gelap
Mendung kian menggelayut
Angin semilir membawa kabar akan datangnya hujan
Pelangi, tentu tak akan hadir menemani

Aku tahu...tak mudah memang untuk melepas kepergiannya
Dan aku sadar...aku tak bisa menggantikan posisinya
Tapi aku yakin....suatu hari nanti Pelangi itu akan kembali
Memberi warna pada senja di hatinya